Pakaian Dalam Untuk Tolak Tuduhan Korupsi

Berbeda dengan di negara kita yang mengalami kemelut masalah pemberantasan korupsi. Negara China beberapa langkah lebih maju dibandingkan Indonesia. Mulai dari rakyat hingga penguasa sepakat untuk memberikan hukuman mati bagi pelaku korupsi. Korupsi adalah hal hina yang dilarang di China, bahkan akibat komitmen pemberantasan korupsi ini sejumlah pengusaha/pejabat kotor harus berlarian ke negara lain.

pakaian dalam mewah

Banyak pejabat yang sudah dieksekusi akibat korupsi, ternyata membuat para pejabat lain menjadi ketakutan. Bahkan dilaporkan oleh Merdeka.Com tentang trend pembelian pakaian dalam mewah. Lalu apa hubungannya dengan korupsi ? usut punya usut pembelian-pembelian tersebut digunakan untuk mengurangi jumlah kekayaan individu sekaligus menghindari penggunaan pakaian luar mentereng. Karena petugas di China tentu akan mencurigai setiap orang dengan atribut mewah.

Penjualan pakaian dalam di sejumlah toko di China kini sedang mengalami peningkatan. Seiring angka penjualan pakaian mewah yang menurun, jumlah penjualan bra seharga Rp 4 juta dan celana dalam laris manis. Produsen pakaian dalam asal Italia Perla yang sebelumnya harus mati-matian menjual produk mewah mereka seharga Rp 25 juta kini mulai menunjukkan kemajuan. Perla saat ini mempunyai 14 toko di China, Hong Kong, dan Taiwan. Tahun lalu angka penjualan mereka melonjak menjadi 42 persen.

Bulan lalu Perla membuka cabang baru khusus menjual pakaian dalam pria di Kota Shanghai dengan menjual celana dalam seharga Rp 2,5 juta. Perusahaan pakaian dalam mewah asal London, Inggris, Agent Provocateur, mengatakan penjualan mereka di empat butik di China lebih tinggi 25 persen dari yang diharapkan, seperti dilansir surat kabar the Wall Street Journal, pekan lalu. Penjaga toko perempuan di Agent Provocateur mengatakan penjualan paling laris dicatat oleh bra tembus pandang warna putih dengan harga sekitar Rp 3 juta.

Pembeli macam Zu Yujiang, 30 tahun asal Kota Tianjin, mengatakan, membeli pakaian mewah di China kini bisa dianggap terlalu mencolok.
“Saya tidak mau borong baju terlalu banyak,” kata Zhou yang bekerja di perusahaan farmasi. “Tapi saya tidak keberatan menghabiskan lebih dari Rp 2 juta untuk sebuah bra.”

Rakyat China, termasuk para pejabatnya, kini menghindari memborong pakaian mewah karena ada kampanye gencar dari pemerintah untuk memberantas korupsi. Mereka yang terlihat memakai baju mentereng berharga mahal dan bermerek patut diduga seorang koruptor.

About Yan Surachman 440 Articles
Namaku Yan Surachman. Bagiku hal paling menyenangkan adalah ketika bisa saling berbagi dan saling mengingatkan dalam kebaikan. Jangan lupa LESTARIKAN HUTAN di Indonesia.