Muslim Rusia Lebih Nyaman Sholat Di Restoran

RBTH – Sejak dulu, di Moskow terdapat banyak penduduk beragama Islam dan mereka selalu menjunjung kedamaian dan kerukunan umat beragama. Mereka adalah penduduk lokal yang sebagian besar merupakan suku Tatar yang sudah tinggal di Moskow sejak ratusan tahun lalu. Ada pula pekerja imigran dari seluruh negara Asia Tengah dan Republik Kaukasus.

Alyautdinov bercerita, di masjid-masjid Moskow terdapat musala khusus untuk orang Arab. “Rata-rata yang datang ke musala tersebut adalah orang Suriah yang saya rasa mereka memiliki ikatan batin khusus dengan warga Rusia,” ujar Mufti Alyautdinov.

Para pendatang dari Arab dan negara muslim lain tinggal dalam lingkungan tersendiri dan biasanya lebih memilih beribadah di masjid-masjid Kedutaan Besar dan musala restoran-restoran Arab.Orang Suriah yang tinggal di Moskow kerap menjalankan ibadah salat di restoran Pasha yang terletak di Severniy. Di wilayah tersebut juga banyak pendatang dari negara belahan Timur yang bermukim.

Saat koresponden RBTH membuka pintu restoran, ia langsung dikerubungi oleh segerombolan anak kecil yang membimbingnya ke ruangan kecil di dalam restoran. Di sana, ia bertemu dengan seorang pemuda bernama Kuddus Mukhamed Rukhuz, biasa dipanggil Alok. Alok adalah pengelola restoran tersebut, yang ternyata merupakan restoran Bangladesh. Dalam perbincangan, Alok bercerita ada sekitar 1.200 orang asal Bangladesh di Moskow dan mereka semua tinggal di ibukota Rusia tersebut secara legal. Kebanyakan dari mereka bekerja di pasar, menjual pakaian, seprai, barang elektronik, audio, dan video.

“Kami sangat religius. Kami memiliki imam dan pembaca Al-Quran sendiri. Kami wajib berpuasa di bulan Ramadhan, terutama pada hari Jumat, sehingga di sini (restoran) jadi sepi pengunjung,” terang Alok.

Setelah bercengkerema dengan Alok, sang koresponden keluar dan membuka pintu sebelah yang terpasang papan nama Pasha di depannya. Ia pun berbincang dengan Husein Akhmadi di sana. “Kami orang Arab, bahkan yang telah tinggal bertahun-tahun di Moskow, tetap memilih untuk sembayang di kalangan sendiri, bisa dibilang dalam lingkaran bangsa kami sendiri,“ kata Akhmadi yang terlahir sebagai orang Suriah namun sudah tinggal di Moskow selama 35 tahun. Ia sekarang bekerja sebagai tukang bangunan. “Menurut perhitungan kami, di Moskow saja ada lebih dari sepuluh ribu orang Suriah. Itu adalah komunitas Arab terbesar di ibukota. Akan tetapi kami tidak memiliki masjid kami sendiri, jadi kami terpaksa menyewa tempat yang berbeda-beda untuk melaksanakan ibadah,” ujar Akhmadi.

Masalah masjid bukan hanya krusial bagi orang Suriah saja. “Ini adalah hal yang sulit. Kami benar-benar kekurangan masjid, pusat pendidikan dan budaya, tempat kami dapat memberi pencerahan orang banyak, menolong mereka memperbaiki cara berpikir dan bertindak,” keluh Alyautdinov. “Sayangnya, banyak pendatang muslim yang datang ke Moskow kehilangan prinsip moralnya. Mereka mulai bersikap kasar dan tidak sopan terhadap penduduk lokal di pasar maupun kendaraan umum. Oleh karena itu, tidak heran para penduduk asli Moskow menentang pembangunan masjid di dekat tempat tinggal kami,” tutur Alyautdinov. Ia menambahkan, orang muslim di Rusia harus mengubah mental spiritual mereka terlebih dahulu. Namun, tentu hal itu membutuhkan waktu dan kesabaran.

About Yan Surachman 440 Articles
Namaku Yan Surachman. Bagiku hal paling menyenangkan adalah ketika bisa saling berbagi dan saling mengingatkan dalam kebaikan. Jangan lupa LESTARIKAN HUTAN di Indonesia.