Kebebasan Pers Ala “Charlie Hebdo” Tidak Cocok Untuk Negara Berpenduduk Religius

Beberapa hari lalu pemberitaan internasional dihebohkan oleh insiden penyerangan kantor sebuah tabloid di Paris, Prancis. Tabloid Charlie Hebdo adalah target penyerangan pada peristiwa tersebut, yang dilakukan beberapa orang bersenjata. Diduga penyerangan tersebut dilakukan karena tabloid Charlie Hebdo kerap menyerang keyakinan (agama) di dunia dengan kalimat yang menyinggung.

Perlakuan tabloid ini terhadap warga Muslim telah memicu reaksi sengit, termasuk gugatan hukum di pengadilan atas tuduhan bersikap rasis. Pada tahun 2007, tabloid ini pernah terbebas dari gugatan rasis oleh Liga Muslim Dunia. Tidak hanya pada warga muslim, tabloid “Charlie Hebdo” juga pernah menyerang kelompok sayap kanan Katolik dalam tabloidnya.

Tabloid ini terkenal suka memicu kontroversi dengan menyerang pemimpin politik dan agama lewat karikatur tanpa alasan yang jelas. Charlie Hebdo yang diterbitkan setiap hari Rabu, juga dikenal tidak suka menghormati nilai-nilai yang dianggap umum, anti-kemapanan dan anti-agama. Banyak kartunis di tabloid ini mengawali karirnya di Tabloid “Hara-Kiri” tahun 1960an yang memproklamirkan diri sebagai tabloid yang “konyol dan jahat”. Secara keseluruhan tabloid ini adalah tabloid sekuler dan atheis”, ujar Charbonnier kepada Reuters saat itu. (dikutip dari VOA Indonesia)

Karena tabloid itu terus menerus mengecam dan mengolok-olok banyak tokoh masyarakat dan institusi. Karikatur Charlie Hebdo yang menurut banyak warga muslim kasar, di Perancis lebih dipandang sebagai isu kebebasan berpendapat. Bahkan dengan alasan “kebebasan berpendapat” ini pula tabloid ini bebas dari dugaan rasisme.

Kebebasan Ala “Charlie Hebdo” mungkin saja dihormati di negara-negara yang tidak berlandaskan nilai-nilai religi. Namun kebebasan Ala tabloid Perancis ini sangat tidak cocok untuk masyarakat Indonesia yang religius dan multikultur. Indonesia adalah negara demokratis dengan nilai religi sangat tinggi, sebagaimana Pancasila sila ke-1. Masyarakat Indonesia hidup dengan jalan MENGHORMATI SATU SAMA LAIN, bukan dengan menyerang ajaran-ajaran religi sebagaimana dilakukan Charlie Hebdo.

About Yan Surachman 440 Articles
Namaku Yan Surachman. Bagiku hal paling menyenangkan adalah ketika bisa saling berbagi dan saling mengingatkan dalam kebaikan. Jangan lupa LESTARIKAN HUTAN di Indonesia.

2 Komentar

  1. Harusnya mereka tidak
    menyalahkan para
    penyerangnya, karna
    mereka jg berhak bebas
    berexpresi dan
    penyerangan itulah
    expresi mereka seharusx
    para pemuja kebebasan
    Ala Charlie Hebdo tak
    mengutuk aksi mereka. . .
    jangan main api bila tak
    ingin terbakar Hormatilah
    keyakinan orang lain,
    kebebasan it baik asal gak
    kebablasan

Komentar ditutup.