Kisah Masayuki Watanabe, Pendiri Brand Quipper School

Selamat siang, perkenalkan saya Masayuki Watanabe. Saya adalah pendiri dan CEO dari perusahaan pendidikan berpusat di London, Quipper. Saya akan terbuka dan terang-terangan kepada Anda hari ini. Saya akan memberitahukan kepada Anda apa saja kesulitan yang dihadapi oleh sebuah perusahaan, dalam membangun platform pendidikan global.

Pertama-tama, mari kita dahulukan bagian yang membosankan: saya. Saya bergabung dengan McKinsey setelah lulus pada tahun 1997. Saya belajar banyak hal di sana, namun keberuntungan terbesar saya adalah saat bertemu dengan seseorang yang sangat brilian, Tomoko Namba – seorang pebisnis yang sangat saya kagumi, sekaligus orang yang membuat saya merasa beruntung karena dapat membentuk hubungan kerja yang kuat dengannya.

Pada tahun 1999, Namba meninggalkan McKinsey. Begitu pula dengan saya. Bersama Namba, kami mendirikan perusahaan game sosial, DeNA. Selama 10 tahun bersama DeNA, saya mengawasi banyak proyek dan layanan web, termasuk e-commerce (transaksi komersial melalui internet), lelang online, merger & akuisisi internasional, game dan banyak sektor lainnya — saya rasa lebih banyak dari yang dapat ditangani orang lain. Masa tersebut adalah masa yang paling mengasyikkan dalam hidup saya — masa dimana saya belajar dengan konstan.

Namun masa saya di DeNA hanya setengah dari perjalanan saya. Mungkin kurang dari setengah. Inspirasi terbesar saya dalam kehidupan, saya dapat dari bepergian (travelling), melebihi pengalaman bisnis saya. Namun apa yang saya pelajari selama perjalanan saya sangat sedikit kaitannya dengan budaya mancanegara, atau sejarah besar planet kita, atau peninggalan kita sebagai manusia — yang saya pelajari lebih bernilai, dan lebih menekan — lebih mendesak — daripada hal-hal lain.

Saya belajar betapa beruntungnya saya. Saya sudah mengunjungi lebih dari 30 negara, dan semenjak masa sekolah, saya telah menjadi pengunjung yang sensitif. Saya banyak menghabiskan waktu saya di kamp pengungsi, bahkan pernah juga membantu untuk membangun sekolah-sekolah. Selama menjadi sukarelawan, saya dihadapkan dengan kenyataan sederhana namun menakutkan: jika Anda dilahirkan di negara miskin, kesempatan Anda sangat kecil untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Dan tanpa pendidikan utama tersebut, kesempatan Anda akan menurun drastis. Saya menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri, bagaimana hal tersebut menyebabkan orang-orang berada pada situasi yang semakin menyulitkan.
Dan itulah titik awal dari Quipper.

About Yan Surachman 440 Articles
Namaku Yan Surachman. Bagiku hal paling menyenangkan adalah ketika bisa saling berbagi dan saling mengingatkan dalam kebaikan. Jangan lupa LESTARIKAN HUTAN di Indonesia.