Permasalahan Esensial Mulai Menjangkiti Alumni SM3T

Satu per satu teriakan tentang kejelasan nasib alumni SM3T mulai mencuat. Bukan hanya alumni SM3T yang masih belum lulus PPG, namun juga alumni yang sudah bersertifikat pun mengalami beberapa kendala yang serius. Kendala-kendala tersebut adalah terkait pemenuhan kebutuhan dasar hidup mereka.

Beberapa masalah yang dimaksud adalah terkait dengan papan, sandang, dan pangan. Apalagi alumni SM3T ini berusia rata-rata 24 tahun hingga 28 tahun. Dalam usia yang demikan, mereka sudah dituntut untuk hidup mandiri, dan sudah tidak bergantung lagi pada orang tua mereka yang bisa jadi berusia lanjut.
Seusai lulus dari PPG alumni SM3T harus mencari pekerjaan secara mandiri, sesuai kontrak. Langkah tersebut seakan realistis mengingat alumni PPG pasti memiliki keunggulan. Namun apa mau dikata jika Kepala Sekolah dan Guru di sekolah belum mengetahui apapun tentang program unggulan pemerintah tersebut. Mereka yang alumni PPG akhirnya disama ratakan dengan lulusan baru yang masih belum mengetahui apa itu PPG.

Bahkan sejumlah alumni SM3T mencoba menanyakan perihal sertifikat yang mereka miliki ke Dinas Pendidikan terkait, namun jawaban-jawaban yang cukup mengejutkan yang didapatkan. Sejumlah dinas tidak mengetahui perihal sertifikat tersebut. Aneh bin ajaib, disaat website pemerintah pusat sudah dipenuhi semangat memperbaiki  sistem pendidikan, Dinas terkait di daerah justru belum mengetahui.

Alumni SM3T pun mulai membidik sekolah-sekolah swasta yang menggunakan sistem kontrak tahunan sebagai pengajar. Kebanyakan dari alumni bertahan untuk menjadi honor ala kadarnya, hanya untuk sekedar bertahan hidup. Adapun alumni SM3T yang kesulitan mendapat sekolah swasta, mereka berusaha bertahan di sektor-sektor swasta yang sama sekali tidak terkait dengan dunia pendidikan. Baik alumni SM3T yang ada di sektor swasta maupun honor sekolah merasa sangat keteteran untuk bertahan hidup, jauh dari kesejahteraan karyawan pabrik yang bergaji UMR.

Tabungan para alumni SM3T kini mulai menipis bahkan habis untuk menutupi berbagai biaya dasar hidup. Sebagian yang sudah berkeluarga juga mulai terbelit dari sisi perekonomian. Lantas bagaimana para pendidik profesional ini dapat mengamalkan ilmu mereka? sedangkan untuk makan esok hari mereka harus pontang panting. 

About Yan Surachman 440 Articles
Namaku Yan Surachman. Bagiku hal paling menyenangkan adalah ketika bisa saling berbagi dan saling mengingatkan dalam kebaikan. Jangan lupa LESTARIKAN HUTAN di Indonesia.