Krisis Ukraina, Sebagai Akibat Parlemen dan Oposisi Ukraina Lebih Pentingkan Blok Daripada Suara Rakyat

Kontroversi krisis Ukraina terus bergulir hingga sekarang, banyak pihak menyalahkan Russia sebagai biang keladi dari permasalahan (utamanya pihak pro Barat). Namun sebaliknya, Russia juga menuduh balik pihak barat yang selalu menyudutkan Russia dengan alasan yang tidak masuk akal.
Krisis Ukraina diawali ketika penggulingan presiden Yanukovich melalui aksi demonstrasi. Aksi demontrasi ini diduga ditunggangi oleh pihak oposisi yang anti terhadap berbagai keputusan presiden Yanukovich, terutama kebijakan pemerintah tentang penjanjian dagang dengan Uni Eropa. Presiden Yanukovich dianggap terlalu pro dengan Russia, dan berbeda pandangan dengan oposisi dan mayoritas parlemen yang menginginkan Ukraina lebih condong ke Eropa Barat.

Peristiwa penggulingan presiden Yanukovich ini dikenal dengan peristiwa Maidan. Pada peristiwa ini aksi untuk rasa menjadi kegiatan brutal yang menelan korban sekitar 100 jiwa. Kerusuhan Maidan dipandang sebagai revolusi demokrasi oleh sejumlah pihak. Parlemen juga menindaklanjuti peristiwa ini dengan pencopotan Yanukovich dari jabatan presiden dengan alasan tidak mampu lagi menstabilkan kondisi Ukraina. Hampir bersamaan sejumlah tahanan politik juga dibebaskan termasuk politikus oposisi.

Yanukovich yang merasa pemerintahannya terancam aksi brutal para demonstran, meminta bantuan dari negara terdekat yaitu Russia. Russia dianggap Yanukovich sebagai negara yang tepat untuk membantu permasalahan dalam negeri Ukraina, selain dekat juga Russia adalah anggota dewan tetap Persatuan Bangsa Bangsa yang memiliki hak veto.
Menanggapi langkah Yanukovich yang menggandeng Russia, parlemen dan oposisi di Kiev meminta bantuan dari Amerika Serikat dan sekutunya. 

Lengsernya Yanukovich dari pemerintahan memunculkan opini tidak sedap khususnya di daerah-daerah yang penduduknya pro-Russia, seperti Crimea dan Donetsk. Yanukovich yang dianggap sebagai perwakilan dari wilayah tersebut telah dilengserkan melalui aksi brutal demonstran, alhasil parlemen lokal di wilayah tersebut menjadi tidak percaya pada pemerintahan pengganti Yanukovich.

Sejak awal wilayah Crimea dan Donetsk memang mayoritas berpenduduk etnis Russia yang menggunakan bahasa Russia. Parlemen lokal di Crimea dan Donetsk pun sepakat dengan mayoritas penduduk untuk memperjuangkan nasib mereka sendiri sebagai pro-Russia sebelum propaganda dari Kiev datang.

Alhasil, sekarang pemerintahan Kiev dianggap sebagai angin lalu oleh warga yang ada di Crimea dan Donetsk. Bukan salah penduduk jika melakukan aksi pro-Russia, seharusnya oposisi dan mayoritas parlemen memperhitungkan kepentingan masyarakat Crimea dan Donetsk dibandingkan dengan idealisme blok dan kekuasaan semata. Pemerintahan Kiev terkesan tidak pernah memikirkan penduduk Crimea dan Donetsk. Berdasarkan tindakan yang dilakukan, pemerintah Kiev hanya mementingkan menjaga wilayah dan daerah industri yang menghasilkan uang.

About Yan Surachman 440 Articles
Namaku Yan Surachman. Bagiku hal paling menyenangkan adalah ketika bisa saling berbagi dan saling mengingatkan dalam kebaikan. Jangan lupa LESTARIKAN HUTAN di Indonesia.