Sukwan, Kenapa Tetap Ada Sekarang?

Pengajar sukarelawan sering ditemui di sekolah negeri hingga sekarang, bahkan tidak jarang setiap tahun kepala sekolah masih memasukkan sukwan baru. Kepala sekolah kerap beralasan bahwa sekolah masih kurang tenaga pengajar. Tentu saja pemerhati pendidikan bertanya-tanya, dengan jumlah guru PNS sekarang harusnya seluruh tugas disekolah sudah bisa dihandle.
Aneh bin ajaib memang, disaat moratorium dilaksanakan dan pengangkatan PNS guru dihentikan sementara waktu, kepala sekolah justru merekrut guru sukwan baru. Apakah ini masalah?

Fungsi kepala sekolah memang sebagai tombak pengelolaan sekolah, namun untuk mengangkat tenaga pengajar baru (untuk sekolah negeri) harusnya ditangani oleh Badan Kepegawaian Daerah. Artinya kepala sekolah melalui dinas terkait mengajukan angka kebutuhan guru ke BKD, selanjutnya ditindaklanjuti melalui tes CPNS.

Jikalau memang kebutuhannya sangat urgen, tindakan kepala sekolah merekrut sukwan bisa dimaklumi dengan catatan kepala sekolah memberikan penjelasan bila guru PNS datang maka sukwan tersebut diberhentikan. Kepala sekolah juga dilarang bertindak PHP (pemberi harapan palsu) kepada sukwan. Kepala sekolah sebaiknya memberikan penjelasan tentang berbagai peraturan yang berlaku, sehingga sukwan betul-betul mengetahui posisinya.

Akumulasi tindakan di atas apabila tidak dikontrol, dapat menimbulkan gejolak nasional sebagaimana terjadi sekarang. Adanya guru kategori dan non kategori sangat dimungkinkan dari akumulasi kesalahan teknis di lapangan saat itu.

Akhirnya kita semua berharap adanya perbaikan yang konsisten di dunia kependidikan Indonesia. Indonesia tidak boleh setengah-setengah karena Indonesia sudah tertinggal jauh dari negara lain di dunia.

About Yan Surachman 440 Articles
Namaku Yan Surachman. Bagiku hal paling menyenangkan adalah ketika bisa saling berbagi dan saling mengingatkan dalam kebaikan. Jangan lupa LESTARIKAN HUTAN di Indonesia.