Masa Depan Mobil Listrik Mulai “Redup”

Tren mobil listrik sebagai mobil  masa depan kini mulai diragukan. Setidaknya itulah yang dipikirkan beberapa pabrikan mobil yang ada di “benua biru” Eropa. Pabrik-pabrik mobil kini mulai memikirkan teknologi lain  kendaraan hemat bahan bakar minyak dan ramah lingkungan seiring “redupnya” pamor kendaraan listrik.

Seperti dilaporkan Reuters, merek-merek mobil mulai kuatir jika teknologi hybrid konvensional dan kendaraan listrik yang penjualannya masih lesu nantinya tidak akan bisa memenuhi peraturan emisi Uni  Eropa.

Ide-ide baru di pameran mobil Jenewa pekan ini menunjukkan para pembuat kendaraan menawarkan teknologi baru, misalnya Volkswagen yang menyajikan mesin diesel-listrik XL1, kendaraan dua tempat duduk dengan konsumsi kurang dari satu liter solar untuk  100 kilometer.

Pabrikan lainnya asal Eropa, PSA Peugeot Citroen, meluncurkan hibrida kompresi udara.

Para pembuat kendaraan sedang berpacu untuk memenuhi standar emisi CO2 130 gram per kilometer pada tahun 2015 dan 95 gram per kilometer untuk tahun 2020.

“Kami tidak bisa menggantungkan harapan pada teknologi tradisional lagi,” kata Kepala inovasi Peugeot Jean-Marc Finot wawancara.

Arthur Wheaton, pakar otomotif di Cornell University, berpendapat “Teknologi baterai
belum mampu menyelesaikan masalah klasik yaitu terlalu berat dan daya jangkau yang terbatas.”

Miliaran euro sudah dihabiskan oleh Renault-Nissan untuk mengembangkan mobil listrik, namun optimisme tentang masa depan teknologi tersebut “jauh menurun” tulis KPMG dalam survei pada bulan Januari.

Toyota, yang meluncurkan Prius hybrid pada tahun 1997, telah membatalkan rencana perluasan penjualan baterai EQ dengan alasan  salah membaca permintaan pasar.

Opel membatalkan rencana membuat kendaraan listrik subkompak, Adam, dengan alasan biaya yang terlalu besar.

Audi “mempetieskan” rencana pengembangan mobil listrik R8 coupe dan Nissan mendiskon
harga Leaf karena penjualannya tidak memuaskan.

“Permintaan untuk mobil listrik tidak seperti yang kami bayangkan,”kata Francois Bancon, kepala pengembangan hulu di Nissan.

“Kami berada dalam fase yang sangat tidak pasti, dan semua pihak salah perkiraan.”

Ekonomi Eropa yang lesu berkepanjangan menjadikan soal investasi jadi masalah besar. Sebagian merek bekerjasama untuk mencari teknologi baru, sebagian lagi memilih teknologi hibrid mesin konvensional dan listrik.

Cara lain adalah mengurangi kapasitas mesin, mengurangi silinder dan menambahkan turbocharger untuk mempertahankan tenaga kuda.

VW  XL1  didukung oleh mesin 0,8 liter twin-silinder, jauh lebih hemat dibandingkan produk terhemat VW saat ini Up! yang bermesin tiga silinder 1.000 cc.

Peugeot memperkenalkan Hybrid Air sistem yang dikembangkan Robert Bosch. Motor hidroliknya digerakkan nitrogen yang dikompresi dengan energi hasil pengereman.

Harapan lainnya adalah dari teknologi hidrogen fuel cell. Keunggulannya adalah isi ulang lebih cepat dibandingkan mesin listrik dan daya jelajah yang lebih jauh.

Fuell cell menggunakan prinsip isi ulang dan sama-sama menggunakan motor listrik. Bedanya, tenaga bukan berasal dari baterai tetapi dari susunan cell bercampur hidrogen dengan oksigen untuk menghasilkan listrik.

Daimler, Ford dan Nissan telah mengumumkan rencana bersama mobil fuel cell harga terjangkau dalam waktu lima tahun mendatang, sedangkan Toyota dan BMW bekerja sama  untuk mewujudkannya pada tahun 2020

Admin;
Sebenarnya tidak ada alasan yang mendasar seputar meredupnya pamor mobil listrik bagi pabrikan mobil di Eropa selain alasan pasar. Mungkin dikarenakan banyak negara telah mempersiapkan teknologi mobil listrik masing-masing sehingga pasar pabrikkan mobil mulai berkurang.
 

About Yan Surachman 440 Articles
Namaku Yan Surachman. Bagiku hal paling menyenangkan adalah ketika bisa saling berbagi dan saling mengingatkan dalam kebaikan. Jangan lupa LESTARIKAN HUTAN di Indonesia.